Jumat, 07 April 2017

Rasa Ingin

"Setiap laki-laki muslim pasti menginginkan seorang istri yang solehah. Tapi laki-laki tidak pernah berkaca pada diri sendiri. Menginginkan seorang perempuan yang solehah, tapi kelakuan sendiri amburadul." 
  Entah ada kisah apa di balik tulisan perempuan itu. kata-katanya mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam pada kaum laki-laki. Aku tidak mengenal perempuan itu, namun tergelitik untuk menanggapinya di forum diskusi facebook yang cukup lama kuikuti.
"Jika ternyata aku masuk dalam kategori laki-laki amburadul yang kau maksudkan, aku akan melakukan hal sama. Menginginkan wanita solehah untuk menjadi pendamping hidup. Bukankah kita diajarkan untuk mengutamakan yang baik agamanya dalam mencari pasangan, dalam hal ini soleh/solehah?" Balasku kemudian.
"Di mana-mana laki-laki yang membimbing wanita, bukan sebaliknya." Jawabnya.
 Aku tak tahu. Di satu sisi ia mengakui sebagai seorang (wanita) yang butuh dibimbing, tapi mempermasalahkan orang lain (laki-laki) yang membutuhkan bimbingan. Sepertinya terjadi penyempitan makna bahwa bimbing-membimbing dibatasi oleh gender. Laki-laki yang harus membimbing dan wanita selalu dibimbing.

  Mungkin perempuan itu bermaksud menyampaikan pendapat bahwa, barang siapa yang menginginkan suatu bentuk kebaikan, maka ia harus memantaskan diri terlebih dahulu untuk memperoleh kebaikan itu. Jika benar demikian, akupun setuju. Hanya saja kata-katanya terasa terlalu memojokkan kaum laki-laki terlebih yang amburadul, dan itu pula yang membuatku sedikit risih.

"Adalah hal yang wajar jika manusia menginginkan sesuatu yang baik. Atau bahkan, mungkin dianjurkan mengingingkan kebaikan? Seperti halnya doa yang memintakan kebaikan?"
"Ya, kalau aku sih laki-laki amburadul buang saja ke laut. Sekarang, bagaimana mungkin ia akan menjadi imam, jika mengimami diri-sendiri saja tidak mampu?" Tandasnya.
   Pada akhirnya muncul lah rasa itu. Diri ini merasa lebih baik karena pihak lain terlihat lebih buruk. Semakin jelas sebab akibat yang ditimbulkan dari perasaan sombong, merasa lebih baik dari orang lain dan bahkan merendahkan orang lain. Lalu aku teringat kisah di luaran sana, tentang laki-laki mualaf yang beristrikan seorang muslimah sejati (sejak lahir). Sudah barang tentu, soal ilmu agama islam, istrinya berhak membimbing dan mengajarkan lebih dalam tentang agama islam.

"Perlakuan diskriminatif, menganggap mereka yang amburadul patut dijauhi dan harus dijauhi. Kalaupun menjauh, jauhi sifat buruknya bukan orangnya! Jika laki-laki amburadul dijauhi, lalu dakwah untuk siapa?" Aku memilih menyudahi diskusi yang mungkin lebih dekat pada perdebatan itu.

Kamis, 22 Desember 2016

Ngobrol Sambal


Berbeda dengan tulisanku sebelumnya Cabe-cabean Jahat. Kali ini aku akan menceritakan pengalaman berharga saat menikmati sambal bersama teman.
***
Di sebuah warung kaki lima, aku pernah mengeluhkan rasa sambal yang bermasalah kepada kawan seperjalanan. Sepertinya sambal itu dibuat dengan bahan yang tak lagi segar, terasa kecut dengan aroma yang tak lagi menggugah selera.
Sebagai pelanggan yang merasa menjadi raja, timbul rasa ketidak puasan dalam hati, terlebih setelah merasa mengeluarkan uang untuk membayarnya. Seharusnya aku mendapat sesuatu yang lebih nikmat, pikirku. 

Untuk memastikan bahwa sambal itu bermasalah, bukan lidahku yang bermasalah, akupun menanyakannya pada kawan tandemku yang tetap lahap mencomot sambal di piringnya. Jawabannya pun di luar dugaanku.

"Dimakan apa adanya saja mas. Aku ingat pernah hidup susah, untuk sekedar makan sehari-hari saja kurang. kita hargai setiap makanan yang kita punya, enak tidak enak akan terasa enak jika kita mampu mensyukurinya." Jawabnya pelan dan tenang, walau tak mampu ia sembunyikan getar nada bicara saat menjawabnya, bahkan kulihat matanya yang sempat berkaca-kaca. Pada saat yang sama aku hanya terdiam, mencoba menerawang kehidupan masa lalu perempuan itu.

Mendengar jawaban itu, ada setitik rasa malu namun besar rasa kagumku. Untuk belajar kedewasaan hidup, Tuhan mengirimkan seorang perempuan yang umurnya pun di bawahku untuk menegurku. Lewat percakapan itu, aku ditegur... sudah seberapa tinggi hati diriku selama ini?

Sabtu, 05 November 2016

Tresna

Salah seorang teman yang belakangan mengaku sering dan senang membaca tulisanku, meminta untuk dituliskan sesuatu tentang cinta. Sepertinya aku pernah menuliskannya di artikel Bentuk Cinta pun tentang kerinduan dengan judul Rindu. Mungkin bukan cinta seperti itu yang sedang ia cari, lalu apa? Pacaran? Cinta sesama anak manusiakah yang dia maksud?

Agak lucu rupanya menimbang permintaan itu, mengingat betapa lama aku tak merasakan manisnya mencinta dan dicinta. Oh cinta... tak akan kusangkal perkataan Sujiwo Tejo bahwa mencintai itu sebuah takdir.


Aku percaya cinta itu takdir, sudah digariskan dan tak akan mampu kita mengingkarinya. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya, cinta itu berakar dari hati, cinta itu tidak sistematis yang bisa ditujukan untuk siapa, cinta itu seketika, dalam kata lain benar jika disebut jatuh cinta... tak ada yang pernah berencana untuk jatuh, pun dalam hal cinta. 


Ada ungkapan bahwa 'Cinta tidak harus memiliki'. Mungkin benar.. Bukankah cinta itu memang tumbuh sebelum kita memiliki mereka yang dicinta? Dan bagaimana jika kita memang tidak akan pernah memiliki mereka yang telah kuat menanamkan benih cinta di hati kita? Sakit memang, karena cinta itu memang menyakitkan, tapi mencintai bukan untuk menyakiti. Tuhan itu Maha Asik... Ia menciptakan banyak orang hanya untuk singgah dalam hati kita lalu pergi dan bukan untuk dimiliki.


Sedemikian misteriusnya cinta hingga aku merasa mumet memikirkannya... ah, tunggu. Cinta tidak untuk dipikirkan, cinta untuk dirasakan.