Minggu, 08 Februari 2015

Dari cara makan hingga belajar empati

Gue mau buka tulisan kali ini dengan beberapa pertanyaan. Kalian hoby makan? Makanan favorit kalian apa? Suka yang tradisional atau modern? Simple atau table manner? Tempatnya dimana? dan pertanyaan terakhir, kapan kalian mau ajak gue makan? muehehe..

Gue tipe orang simple, makan sederhana, lidah ndeso, agak kaku makan yang ribet-ribet. Makan mie ayam saja pakai garpu gak bisa make sumpit. makan steak saja pake tangan kosong. | gak ada yang tanya muahahaha...

Nah kalian pernah denger atau mungkin pernah nyoba, menikmati makanan dalam kegelapan? Sebut saja 'Mawar'.. oh sory-sory.. sebut saja Blind cafe/resto (bukan nama sebenarnya). Dewasa ini beberapa cafe atau restoran, orang ndeso menyebutnya warung, telah menawarkan sesuatu yang unik bahkan namanya terdengar ekstrem. Mungkin sebagian dari kita telah mengetahui apa itu warung remang-remang? Dan kali ini gue mau ngebahas tempat yang lebih ekstrem dari sebuah 'kata' remang-remang. Remang-remang identik dengan tempat gelap namun dengan pencahayaan minim yang membuatnya remang-remang (samar-samar / agak gelap). Dan tempat ekstrem yang gue maksud disini adalah Blind cafe karena disini tidak hanya remang-remang melainkan sudah masuk kategori gelap gulita tanpa pencahayaan.



Jadi disini kita akan dibawa kesebuah ruangan yang gelap gulita dipandu oleh seorang mc dan ditemani sebuah lilin, kalau gak kuat lambaikan tangan pada kamera.. Sampai mana ini??? Yah intinya kalian makan di tempat gelap gulita, dimana sama sekali tidak ada cahaya dan semua benda yang dapat mengeluarkan cahaya harus dikumpulkan pada pihak Blind cafe.

Nah, katanya sih makan ditempat gelap dapat meningkatkan indera perasa lidah. Jadi makanan yang kita santap bakal terasa lebih nikmat dikarenakan indera perasa kita lebih peka saat gelap. Tapi menurut pengalaman gue, makan ditempat gelap itu benar-bear menambah rasa... rasa menjengkelkan maksudnya.



Gue pernah dulu makan malam dirumah dengan lauk ikan bandeng. Sebagai orang ndeso yang simpel dan karena gue pemberani yang mempunyai jiwa kesatria, maka gue makan dengan menggunakan tangan kosong.. | apa hubungannya antara makan, tangan kosong dan kesatria? lu kira pertempuran? | sudaahh.. simak saja...
Nah, lagi enaknya makan sambil nonton tv, eh listriknya mati.. Kebayang gak lo? Padahal bandeng itu kan penuh dengan duriduridamdam duriduridam.. Walau gue makan dengan tangan kosong yang artinya indera peraba gue sangat berguna tapi tetep saja ribet, kagak ada enaknya.. yang ada hanya pingin nyari tempat terang biar makan lebih manusiawi.

Sekarang kita pindah ilustrasinya, terutama kalian orang simple yang makan pun simple, kembangkan imajinasi kalian. Gue butuh daya imajinasi kalian.
Siap.. Bayangkan kalian makan di Blind cafe dan makanan yang dipesan adalah steak (sepertiyang pernah guelihat di TV). Menurut pengalaman gue yang makan steak bisa dihitung dengan jari tangan. Steak selalu dihidangkan kemeja pelanggan dalam keadaan panas, dimana saus steak nya saja blekutuk-blekutuk menggelembung karena mendidih. Dan lo makan itu steak yang kalau bibir lo nempel tu makanan kagak kuat dua detik dan makan dengan peralatan tempur lengkap yang artinya bukan alat peraba yang baik, maka apa yang akan terjadi? Bayangkan seperti saat kalian membayangkan yang indah-indah. begitu nyata tengah lu rasakan? nikmat? ribet? jengkel? Kalau gue orang simple, ngebayangin saja jadi ikut ribet..

Tapi, sebenarnya ada yang bisa kita pelajari dari cara makan ini. Empati, ya itulah yang bisa gue tangkap disini. Menurut gue yang belum pernah nyoba makan di blind cafe, kita bisa belajar ber-empati pada orang yang benar-benar kehilangan penglihatan mereka.

Sekali lagi gue mau ajak kalian untuk berimajinasi. Bayangkin jika kita berada dalam kondisi buta, tak hanya saat makan tapi kita benar-benar tidak bisa melihat semua yang ada didunia ini. Tak ada warna, hanya kegelapan yang tampak. Kita tak bisa melihat indahnya dunia, tak pernah tau seberapa tampan dan cantiknya orang tua kita ataupun orang-orang disekitar kita.



Saat makan, kita tak bisa menilai dan merasakan suatu makanan kecuali dengan lidah kita. Saat orang lain tertegun melihat ke-elokan tampilan makanan, kita hanya bisa menahan diri menunggu seseorang untuk menjelaskan apa yang mereka lihat. Saat makan bersama, saat semua orang sudah sibuk memilih dan menikmati makanan kesukaan masing-masing, kita hanya bisa terdiam berharap ada seseorang yang berbaik hati menyebutkan semua makanan yang tersaji di meja lalu mengambilkannya untuk kita.

Sungguh kita yang hidup dengan kelengkapan panca indera, haruslah banyak bersyukur dan menjaganya dengan baik. Dan tak pantas bagi kita melakukan hal-hal yang bersifat diskriminatif kepada mereka yang kehilangan salah satu panca indera.

Senin, 26 Januari 2015

Balada SIM & Bapak-bapak Penggoda


Surat Izin Mengemudi
Wokee.. Gue mau cerita pengalaman gue beberapa hari yang lalu saat melakukan perpanjangan SIM (Surat Izin Mengemudi). Sedikit menjengkelkan memang. Selain prosesnya yang luama karena antrian yang membludak, waktu itu juga bertemu bapak-bapak penggoda, padahal tampang gue kan gak murahan. Mungkin bapak itu menyadari kalau gue itu ternyata rupawan.muahaha.. enggak.. bukan godaan seperti itu yang gue maksud. Jadi ceritanya, setelah gue ngalor-ngidul ngikutin prosedur dari fotocopy berkas-berkas sampai tes kesehatan. Datanglah tawaran dari salah satu petugas.

"Dibantu apa sendiri Mas?" Kata seorang bapak yang membuat gue harus berdiam diri seribu bahasa untuk mencerna maksud pertanyaan yang diajukan.
"Kalau dibantu berapa Pak?" Tanya gue balik mulai paham arah tawaran dari bapak itu.dan inilah godaan yang gue maksud itu.
"Rp. 310,000 tinggal foto langsung jadi"
"Kalau sendiri?" Tanya gue ingin membandingkan selisih harga antara ngurus sendiri dan dengan bantuan 'orang dalam' alias instan.
"Rp. 100,000 tapi nanti harus ikut ujian, kalau gagal harus nunggu 14 hari lagi." Terang Bapaknya dengan menyebut resiko jika mengalami kegagalan saat melakukan ujian.
"Kalau gagal ujian harus nunggu 14 hari lagi dan harus ujian ulang?" gue coba korek sedikit info.
"iya."Jawabnya singkat lalu menunggu jawaban selanjutnya dari gue

"Ya sudah, sendiri saja pak." Jawab gue mantap. Si Bapak gak tau kalau gue sudah terbiasa sendiri. Buat apa pengalaman 'sendiri' (diperhalus dari kata JOMBLO) bertahun-tahun kalau ngurus SIM sendiri saja gak berani. | yaela bro, jomblo kok bangga.| ah..sory. maksud gue buat apa pengalaman ngasphalt keliling kabupaten kalau tes dasar saja gak berani.
"yakin? Nanti kalau gagal harus nunggu 14 hari lagi lho." Kembali bapak itu mencoba menggoda untuk melunturkan nyali gue.
"Gak apa-apa Pak." Jawab gue dengan semantap-mantapnya.
"Wes lak kon ngetan wae nak arep dewe!" (Dah, langsung suruh ke timur [tempat ujian] saja kalau mau sendiri!) Celetuk bapak petugas yang lain. Sepertinya dia kecewa gagal dapat uang tambahan dari gue.

Dengan percaya diri penuh keyakinan karena merasa menang telah menghadapi godaan, langsung gue langkahkan kaki menuju gedung lain tempat uji teori. Lihat perbandingannya meennn... 100.000 dan 310.000 itu lumayan banyak selisihnya.Oya, disini gue mau perpanjang SIM, bukan untuk membuat SIM baru. Dari informasi yang gue dapat di Google, ongkos perpanjang SIM memang lebih murah tak lebih dari Rp100.000. Dan sayangnya, SIM gue sudah mati hampir 12 bulan. tapi dari info yang gue dapat dari pengalaman orang-orang di Google, SIM yang mati tidak lebih dari 1 tahun masih bisa diperpanjang. Jadi gue sedikit bisa merasa lega. Memang masa berlaku kartu identitas itu kerap lolos dari ingatan. SIM gue mati hampir 12 bulan juga karena gue lupa, SIM seperti hanya menjadi pelengkap berkendara. Disimpan didompet dan jarang untuk digunakan, apalagi gue termasuk pengendara yang taat lalu-lintas. akhirnya ada juga yang bisa gue banggakan.huehue

Setelah beberapa saat ikut mengantri bersama para peserta uji teori yang lain, panggilan untuk gue terdengar. Gue dipanggil kedalam ruangan yang berbeda dari peserta lain. Di dalam ruangan itu terdapat dua orang petugas dengan seragam Polisi.Salah satu petugas basa-basi introgasi alasan SIM bisa mati setelah gue jawab, bapak itu merogoh kedalam.. | ya ampun, elo dirogoh polisi? | Ndasmuk, jangan disela to.. Bapak itu merogoh kantong sakunya dan mengambil HP, lalu menelpon seseorang menanyakan biaya yang harus gue bayar karena SIM gue mati hampir satu tahun. Setelah menutup telponnya, akhirnya gue denger kalimat demi kalimat yang memancing jantung gue berdetak lebih cepat.| ciee..ciee.. bapaknya nyatain isi hatinya ke elo?| Ho'o. cie..cie..lambemu | Bapak itu bilang cinta ke elo? | amatamu.. Bapaknya bilang, karena SIM mati bayarnya seperti biasa alias bikin SIM baru bukan lagi perpanjang SIM yang artinya biayapun harus diatas Rp.100.000.

Harapan untuk meraih harga rendah Rp.100.000 pupus sirna seketika, Bak upil yang dikorek paksa dengan ibu jari lalu dibidaskan sekuat tenaga hingga mental dan hilang sirna ditelan jarak. Gilak,yang semula berharaphanya membayar Rp.100.000 disuruh bayar Rp.300.000. Kalau gitu mah sama saja dengan petugas sebelumnya. Tapi ya mbuh ding, mungkin karena memang mati hampir satu tahun makanya gue suruh bikin baru, coba khuznudhon wae lah. Gak mau kalah, gue coba nego harga, eh diberi potongan Rp.20.000. Kuamprettt... kok bisa dinego? mungkin harga Rp.300.000 hanya harga akal-akalan. haaahh...gue mulai suudzon, karena tanpa ujian teori ataupun ujian praktek. Dari yang awalnya ingin ngurus sendiri malah jadi pakai orang dalam. Tapi karena sudah merasa malas harus gontok-gontokan, akhirnya gue nyerah juga. langsung gue bayar tuh Rp.280.000.

Jadi ringkasan pengeluaran dari awal sampai akhir adalah fotocopy + stopmap Rp3.000, tes kesehatan Rp.25.000, bayar SIM Rp.280.000 dan parkir Rp.2.000 jadi total Rp.310.000. Tapi itu lebih murah dari penawaran bapak petugas sebelumnya lho ya, yang menawarkan Rp.310.000 tidak termasuk tes kesehatan dan fotocopy.

Buat agan-agan jangan sampai telat perpanjang SIMnya. Daripada telat perpanjang dan harus bikin baru, mending tepat waktu hanya perli keluarin maksimal Rp.100.000. Coba dicek dulu masa berlaku SIM nya, kali aja sudah waktunya diperpanjang.

Minggu, 11 Januari 2015

Antara Kejemuan dan Kagetan

Sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya gue memberikan sedikit nasehat dan saran yang tak berguna ini untuk kalian semua. Nasehat untuk jangan menjadi orang yang kagetan. Orang yang dikit-dikit kaget, lihat ini kaget lihat itu kaget seperti halnya orang yang tidak pernah melihat luasnya dunia. Dan virus kagetan ini telah terindikasi mulai menyebar di Indonesia baru-baru ini.

Masih ingat dengan berita polwan cantik? tukang tambal ban cantik? Satpol PP cantik atau mungkin penjual getuk cantik? pilot berjilbab cantik? Baru-baru ini mulai muncul berita baru mengenai lurah cantik. Gue kurang paham mengapa kecantikan itu harus dibesar-besarkan sedemikia rupa. Gue ingetin ya, kecantikan tidak hanya bisa dimiliki oleh mereka yang berlimpah harta, jadi jangan kaget seolah-olah wajah rupawan yang dimiliki oleh orang-orang kaum menengah ke bawah adalah suatu hal yang tidak biasa, cenderung luar biasa dan patut untuk dilebih-lebihkan. Itu hal yang wajar meennn... Tuhan itu Maha Adil, memberikan wajah menawan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.

Sebenernya gue juga heran, perasaan tampang gue ini gantengnya gak ketulungan. Tapi kenapa tidak pernah tersorot media-media alay? apa karena tampang gue kurang alay? | muahaha... ganteng darimana? gue saja udah operasi mata 2x liat muka loe tetep aja butek. ngahaha |

Ya sudah agar kalian tidak lagi menjadi orang-orang yang terjangkit virus kagetan, gue kasih nih foto-foto mereka supaya kalian terbiasa melihat wanita cantik dan gak kaget lagi saat melihat kecantikan kaum Hawa yang tersebar dipinggir-pinggir jalan.

tambal ban cantik

pilot tempur cantik

penjual getuk setelah dimakeup

penjual getuk sebelum dimakeup

pilot komersial cantik

polwan cantik


satpol pp cantik


TNI cantik

Lurah cantik


Atau analisis gue yang lain, yang lebih positif. Sepertinya ini bukan virus kagetan tapi kejemuan cara pandang. Seperti orang kota yang terkagum-kagum melihat tumpukan terasering persawahan di perdesaan, yang merupakan hal biasa bagi warga desa karena setiap hari melihatnya. Seperti orang desa yang terkagum-kagum melihat bangunan perkantoran yang menjulang tinggi yang tak pernah ditemui di desa padahal menurut sebagian orang kota, kantor adalah tempat yang menjemukan.

Mungkin inilah yang terjadi pada orang-orang kota. Mereka terbiasa melihat pegawai kantoran cantik dengan polesan makeup dan wangi parfum yang menyeruak, blazer serta rok mini. Mereka bosan dengan itu semua dan mungkin perlu sesuatu yang berbeda dengan apa yang setiap hari mereka saksikan di kantor. Dan sesuatu yang beda tersebut adalah berupa kecantikan natural yang dimiliki wanita pekerja keras (hidup keras dijalanan) . ah embuhlah.. menurut gue sah-sah saja mengagumi kecantikan tetapi jangan sampai melebih-lebihkannya