Senin, 29 Februari 2016

Alasan Mencukur Kumis


"Hemmm... Ya... Baik..". Gua sedang ngobrol dengan hati gua sendiri. mencoba memecahkan masalah dengan pertimbangan hati.
***********
Ada yang punya obat sakit kepala? Gua sedang merasa nyut-nyutan setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari seorang tante-tante yang masih tetangga, walau jauh. Setelah ngalor-ngidul ngobrolin bisnis ( muahahaha.... pengangguran yang sok-sokan ber-uang ngrembuk bisnis). Entah mengapa tiba-tiba obrolan nyrempet urusan jodoh.

"Rumah segede itu mau buat apa?" tanya nya. Kebetulan kami sedang ngobrol di emperan tetangga depan rumah gua. Bukannya apa-apa, gua cuma udah tahu obrolan ini bakal ke mana.
"Buruan cari istri!" lanjutnya.
Nah loh, bener kan. Gua hafal betul trik basa-basi mengorek informasi perihal siapa pengisi hati. Langsung saja gua keluarin seribu jurus memutar balikkan saran. Wong si tante ini juga janda je. Tapi ya bentar, gak usah suat-suit, cia-cie gitu. Jomblo dan janda ngobrol berdua bukan hal yang tabu kok. muahaha...

Sekian lama saling lempar serangan perihal jodoh. Obrolan kembali mengalir tenang, hingga sampai pada pertanyaan yang tak kalah memicu adrenalin.
"Umurmu berapa to Le?"
"23 Mbak"
"Ha?" Cuma itu kata yang keluar sambil tiba-tiba meluruskan tulang belakang sebagai ekspresi terkaget. Kenapa pula doi kaget? Ini nih, waktu di mana prasangka yang telah lama disangka kan akan menemui sebuah titik terangnya.
"Kenapa? Emang mbo kira aku umur berapa?" Gua pancing saja sekalian. Sapa tau doi bakal bilang "Oh.. Tak kira umurmu 17, kok keliatan masih muda" muahaha.. Dengan harap-harap cemas dan dengan sedikit demi sedikit menguatkan hati untuk mewaspadai kemungkinan terburuk, akhirnya keluar juga jawabannya.

"Tak kira umurmu 27" Jawabnya dengan tawa lepas.. 
Settannn... muahahaha.. Kalau didramatisir, gua ibarat bawang putih yang sedang ditertawakan ibu tirinya. Gua sakkiittt.. Ngahahaha...

Pada saat itu juga, gua langsung teringat simbok (ibu gua) yang dengan riang gembiranya pernah ngobrol sama orang lain dengan mengatakan "Taro itu memang usianya masih muda, tapi wajahnya sudah tua" DYERRRR.... wat de faq. Jika didramatisasi akan elok jika tiba-tiba diiringi backsound lagunya Nidji.

Dulu aku kau puja
Dulu aku kau sayang
Dulu aku sang juara
Yang selalu engkau cinta
Kini roda telah berputar

Dan saat lagu itu diputar, gua sedang lari-lari dengan linangan air mata dan di slow motion. Khampret sekali..

Sebagai seorang simbok yang baik hati, seharusnya simbok itu sering-sering melempar pujian buat anaknya, itung-itung promosi biar anaknya cepet laku. Lha kok malah sebaliknya? Tapi sebagai anak yang baik hati, gua selalu berprasangka baik. Mungkin simbok melakukan itu supaya menemukan jodoh yang siap menerima kekurangan anaknya.. | Muahahaha... cie mengibur diri sendiri ciee... | Cia-cie matamu sempal..
*****
Malam harinya gua sedang merenung di kamar. Memandang cermin dan sesekali mengangguk-anggukkan kepala setelah gua sadari sebenernya gua ganteng.. huehue..
"Hemmm... Ya... Baik.." Malam itu kuputuskan memotong kumis yang sudah memanjang dan bikin risih gua sendiri. Gua masih gak percaya wajah gua setua itu. Ini pasti gara-gara kumis gua.
"Mampus kau kumis, gua potong lu sampai tak bersisa. muahaha....."

Kamis, 21 Januari 2016

Umbel

Jarang sekali ane sarapan dengan konsentrasi penuh seperti ini. Sesekali kuusap peluh yang mengucur di kening hingga umbel (ingus) yang mulai naik turun lubang hidung. Kali ini pembahasan memang tidak jauh dari umbel. Maka dari itu persiapkan kantong plastik jika anda mudah muntah. Jika setelah membaca artikel ini anda merasakan pusing, mual, mata merah, gegar otak hingga pendarahan segera hubungi dokter.

Inhaler
Belum lama ini ane mengalami beberapa komplikasi penyakit ringan, mata panas, batuk ringan, bersin, hingga umbelen yang paling mengganggu. Sedikit-sedikit ane harus mencari tempat untuk mengeluarkan umbel. Tak kalah mengganggu saat umbel mulai bikin hidung mampet. Inhaler sudah tak mempan memberi rasa plong di hidung. Tapi dari pengalaman yang sudah-sudah, ada satu kebiasaan yang ane perhatikan. Di mana dari kebiasaan itu, umbel yang menutup lubang hidung bisa dengan mudah lumer. Iya lumer, seperti keju yang lumer, hanya saja ini berwarna putih. Nah coba bayangkan. muahahahaha...

Oke, langsung saja ane kasih tahu gimana cara ampuh bikin hidung mampet kembali plong. Cukup mudah, enak, menyenangkan dan mengenyangkan. Ya mengenyangkan, cukup dengan makan makanan berkuah panas ditambah sambal. Setidaknya ini sudah ane coba dan terbukti berhasil. Seperti pengalaman kemarin saat sarapan soto ayam dengan ekstra sambal. Wajah memerah dengan keringat mengucur, rasa panas di lidah yang merambat naik melumerkan umbel di hidung.

Ada 2 pilihan yang bisa diambil, saat umbelmu tiba-tiba mencair saat makan. Pertama, segera hentikan makan lalu pergi ke toilet untuk menguras umbel yang siap dibuang. Ada resiko yang harus diambil dari cara pertama. Beberapa orang mengalami penurunan selera makan jika harus makan lalu diselingi kegiatan lain. dalam hal ini diselingi pergi mengeluarkan umbel di toilet. Atau kedua, tetap makan dan menelan umbel yang lumer dari saluran hidung ke tenggorokan. Ane pilih kedua, itung-itung menambah lauk dan mempertahankan selera makan. muahaha... hueekk. ennaakkk.....

Ingus umbel
Selamat mencobaa...

Rabu, 20 Januari 2016

#PrayForPray

Secara bertahap Ane mau belajar menyikapi perbedaan. Di mana perbedaan menjadi penyelaras hidup, menjadi warna indah tersendiri dalam hidup. Perbedaan tak perlu disikapi dengan nyinyir, menganggap pendapat pribadi benar dan yang beda pendapat pasti salah. Tak perlu kita merampas kewenangan Tuhan Yang Maha Benar, karena yang kita yakini benar belum tentu benar di hadapan Tuhan. Berbeda dan saling menghormati, itu intinya. Jikalau harus menegur atau meluruskan yang salah, maka lakukan dengan langkah yang benar.

Di jagat dunia maya, perbedaan pendapat tak bisa dihindari. Berteman dengan kalangan yang lebih luas, dengan perbedaan yang semakin luas pula, namun belum tentu mendatangkan cara pandang yang luas. Menilai suatu permasalahan dari satu sisi lalu menganggap pandangan dari sisi lain adalah salah. Ini menjadi masalah baru yang banyak ditemui. Seperti saat peristiwa bom Thamrin kemarin.

#PrayForJakarta
Seperti sebelumnya saat terjadi Bom Paris, muncul kalangan yang sok penting melarang hastag #PrayForParis. Pelarangan senada juga terjadi saat bom Thamrin. Muncul larangan dari segelintir orang yang menganggap #PrayForJakarta adalah pengalihan isu dari kasus Freeport atau kasus-kasus busuk lainnya. Menjadi 'SOK' karena kalangan itu mengingatkan dengan nyinyir seolah orang yang menggemakan #PrayForJakarta adalah kumpulan orang yang melupakan (teralihkan dari) kasus busuk Freeport. Lagi-lagi rasa trenyuh, simpati bahkan empati disalah artikan sebagai tindakan sia-sia. Ane jadi mikir, mungkin mengucapkan Innalillahi untuk peristiwa Thamrin dilarang pula. Gendeng.

Menjadi aneh ketika mereka yang menolak #PrayForJakarta, yang merasa tak teralihkan dari kasus Freeport malah asik (mungkin teralihkan) mendendangkan #KamiTidakTakut , #KamiNaksir atau bahkan tagar-tagar lebai yang seakan lupa ada korban aparat maupun warga sipil meregang nyawa. Jangankan mengucapkan istirja bela sungkawa, mungkin mereka lebih asik tertawa menganggap aksi teror itu sebagai lelucon yang pantas ditertawakan. Lucu matamu sempal..

Mereka penolak #PrayForJakarta, sepertinya kurang sadar dengan tindakannya. Tidak sadar jika melakukan hal yang sama. Sama-sama hanya memberi perhatian tanpa tindakan lebih lanjut. Di satu kalangan memberi perhatian pada bom Thamrin, di kalangan yang lain memberi perhatian pada Freeport. Sekali lagi, sama-sama HANYA MEMBERI PERHATIAN, kenapa harus nyinyir perhatian yang dilakukan orang lain?

#PrayForPray